Bagaimana Menanggapi Panggilan Allah

July 17th, 2004 by redaksi

Setiap kali seseorang telah menyelesaikan studinya, ia mengirimkan lamaran kerja ke perusahaan. Kemudian menunggu panggilan. Bagaimana sikap kita setelah kita bertobat kepada Tuhan Yesus? Apakah kita menunggu panggilan-Nya seperti seseorang yang baru memasukkan surat lamaran?

Kita tidak perlu menunggu panggilan Allah karena Allah telah memanggil setiap orang berdosa datang pada-Nya untuk bertobat. Matius 11:18-30 disebutkan bahwa Allah memanggil orang-orang yang letih lesu dan berbeban berat (karena dosa) untuk datang kepada-Nya. Mereka berbeban berat karena dosa itu hidupnya menjadi tertekan, tidak bebas, ada penuduhan terus menerus. Karena cinta Allah kepada manusia maka Dia memanggilnya. Marilah kepada-Ku semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu.

Langkah awal memahami panggilan Allah adalah pertobatan. Arti pertobatan dalam bahasa aslinya adalah metanoia yang artinya perubahan akal budi atau cara berpikir.

Sebelum manusia jatuh ke dalam dosa, cara berpikirnya selalu kudus tetapi setelah jatuh ke dalam dosa cara berpikirnya selalu berdosa. Karena Allah mengasihi manusia Ia melihat akibat dari dosa, manusia berusaha menutupi dirinya (karena malu bahwa telanjang) dengan upaya sendiri dengan menyematkan daun pohon ara, Ia berbelas kasihan sehingga dibuatnyalah pakaian yang bisa menutupi ketelanjangannya dengan kulit binatang. Kulit binatang ini diperoleh dari binatang yang masih hidup yang berarti harus dengan menumpahkan darah.

Puji Tuhan, darah Yesus telah menyucikan setiap orang percaya sehingga ketika kita datang kepada Allah bukan dengan mengaku dosa-dosa kita tetapi dengan memberikan yang terbaik buat Dia. Karena sekarang Allah adalah kekasih jiwa kita.

Bagaimana kita masih bisa berbuat dosa lagi? Karena iblis tidak akan tinggal diam melihat kita kudus dan damai sejahtera. Ia menawarkan program-program dosa melalui lingkungan kita, pikiran dan mata kita.
Bagaimana cara mengatasinya? Pertama-tama, mengusir keluar pikiran-pikiran yang bukan dari Allah yang telah membuat kita berdosa. Setelah bersih, kita isi pikiran kita dengan pikiran-pikiran Allah yang ada di dalam Firman-Nya yaitu Alkitab. Bacalah firman-Nya sebagai makanan roh kita dan pikiran kita yang akan terus menerus diperbarui. Jadikan makan firman ini sebagai kebutuhan bukan kewajiban dan jangan bosan-bosan. Sama seperti kita makan makanan jasmani, kita tidak pernah berkata:’ saya bosan makan’, karena ini kebutuhan kita.

Bagaimana agar kita tidak jatuh dalam dosa? Jawabannya, mengubah cara pikir kita dengan bertanya kepada diri sendiri ‘Mengapa harus jatuh?’ Jadi ada satu keyakinan di dalam diri kita bahwa kita tidak akan jatuh dalam dosa sebab firman Tuhan: ‘Karena itu, saudara-saudaraku, berusahalah sungguh-sungguh, supaya panggilan dan pilihanmu makin teguh. Sebab jikalau kamu melakukannya, kamu tidak akan tersandung (2 Petrus 1:10), apalagi jatuh!

Cara lain yang lebih tepat lagi yaitu dengan kita menyadari bahwa orang percaya adalah kudus karena apa?
Karena Dia yang memanggil kita kudus yang berarti kita kudus adanya. Ubahlah cara berpikir kita! Mulailah di posisi orang yang kudus bukan di posisi orang berdosa. Berjalanlah maju terus sehingga terus menerus hidup kudus dan semakin kudus. Jika kita berangkat dari posisi dosa maka kita tidak akan mungkin kudus sampai kapanpun. Jadi peran iman di sini sangat penting. Percayalah bahwa kita kudus di dalam seluruh hidup kita karena Allah yang memanggil kita kudus adanya (1 Petrus 1:15).

Berani atau tidak kita berkata seperti Paulus ‘ Ikutlah aku karena aku mengikuti Yesus’. Atau seperti Tuhan Yesus sewaktu ditanya oleh murid-muridnya, ‘Tunjukkanlah Bapa itu kepada kami, itu sudah cukup!’ Lalu Tuhan menjawab: ‘Barangsiapa telah melihat Aku ia telah melihat Bapa’. Jadi dengan sangat yakin Paulus berkata demikian. Itu sudah cukup. Karena segala kepenuhan keallahan ada di dalam Dia.

Mengapa kita musti takut atau malu. Pasti orang-orang akan berkata, ‘Kemarin ia baru bertengkar dengan istrinya, berani-beraninya mengatakan dirinya kudus!’

Kita mengetahui bahwa kudus bukan kekuatan kita tetapi janji Allah yang berkata ‘Kita tahu bahwa setiap orang yang lahir dari Allah, tidak berbuat dosa; tetapi Dia yang lahir dari Allah melindunginya, dan si jahat tidak dapat menjamahnya (1 Yohanes 5:18).
Kita dilindungi oleh Yesus (yang lahir dari Allah) dan Iblis tidak bisa menjamah kita sehingga kita tetap kudus.

Mengenai panggilan Tuhan ada empat panggilan yaitu :

  1. Panggilan Biasa.
    (untuk bertobat)

  2. Panggilan Umum.
    sebagai hamba)

  3. Panggilan Istimewa
    (sebagai Rasul)

  4. Panggilan Khusus.
    (sebagai Bapa/Gembala)

Keempat panggilan ini bersifat semakin meningkat dan secara terus menerus berkembang ke arah panggilan tertinggi yaitu panggilan sorgawi dari Allah dalam Kristus Yesus (Filipi 3:12-14).

Melupakan masa lalu dan berkonsentrasi dengan apa yang ada di hadapan kita yaitu Yesus. Mengejar panggilan itu, berarti bukan santaii atau pasif melainkan kita serius dan bersungguh-sungguh.
Jaman ini adalah jaman dimana Iblis sedang melakukan tugasnya dengan lebih gencar, karena ia tahu bahwa waktunya sudah dekat. Jadi kita sebagai orang percaya tidak boleh kalah dengan Iblis, sehingga kita harus berlari lebih cepat agar kita tidak dikalahkannya.

Panggilan biasa adalah panggilan untuk orang berdosa agar bertobat dan menjadi orang kudus. Panggilan Umum adalah panggilan orang percaya menjadi hamba. Dulu kita sebagai hamba dosa sekarang kita menjadi hambanya Allah yaitu hamba-hamba kebenaran. Dalam hal ini Allah tidak pernah memaksa tapi memberi hak berupa kebebasan kepada orang percaya untuk memilih.

Harus bersikap bagaimana kita bersikap sebagai Hamba Allah? Kita sudah tidak punya hak lagi atas diri kita sendiri. Hak kita ditanggalkan. Sekarang kita memulai kewajiban-kewajiban kita sebagai hamba kebenaran (Roma 6:16 – 19).
Contohlah Tuhan Yesus seperti tertulis dalam Filipi 2:5-8. Yesus mau merendahkan diriNya sampai dengan titik nol. Dia sebenarnya Anak Allah yang Maha Tinggi tapi ia mau merendahkan diri sedemikian rupa. Sungguh luar biasa Tuhan kita ini. Siapa dari antara kita yang masih mempunyai harga diri? Sedangkan Tuhan Yesus sudah menanggalkan tidak hanya harga diri-Nya tapi bahkan keallahan-Nya pun ia tanggalkan hanya demi manusia. Bahkan Ia sendiri berfirman : ‘Aku bukan datang untuk dilayani melainkan melayani. Demikian juga dengan Paulus dalam 1 Korintus 9:19 ia mau menjadi hamba agar bisa memenangkan setiap orang. Apakah kita lebih besar dari Tuhan Yesus atau Paulus?

Panggilan Istimewa ialah panggilan sebagai Rasul. Rasul artinya yang diutus. Seperti dalam Kisah 13:1-3, Barnabas dan Saulus dikhususkan. Rasul haruslah orang yang betul-betul telah matang secara rohani, ulet serta telah tahan uji.

Contoh paling nyata adalah Rasul Paulus menjadi rasul setelah 12 sampai 13 tahun. Jadi harus dilihat dari buah pertobatan, buah Roh dan buah pelayanannya. Juga jangan orang yang baru bertobat (pemula). Contoh paling nyata adalah terjadinya perselisihan antara Barnabas dan Paulus karena adanya Markus petobat baru yang diikutsertakan dalam pelayanan. Walaupun akhirnya Paulus juga mengasihi Markus.

Panggilan Khusus adalah Panggilan sebagai Bapa. Artinya panggilan orang percaya yang mempunyai hati dan sifat bapa yang selalu produktif, mempunyai pertimbangan jauh ke depan karena tidak hanya mempertimbangkan perasaan tetapi juga pemikiran yang diperbaharui di dalam Tuhan.

Di dalam Gereja selalu ada tiga golongan orang percaya yaitu: anak-anak, orang muda dan bapa-bapa 1 Yohanes 2:12-14. Orang percaya yang masih anak-anak selalu minta perhatian, minta sesuatu dan belum bisa memberi kepada gereja. Orang percaya yang orang muda sudah bisa memberi tetapi hikmatnya masih perlu terus dikembangkan. Semangatnya menyala-nyala untuk mengekspresikan diri. Sedangkan orang percaya yang sudah bapa-bapa adalah orang-orang percaya yang produktif dalam buah pelayanannya, melindungi dan mengayomi.
Amin.

Oleh : Ev. Gideon Arifin

Leave a New Comment